Sabtu, 02 November 2013

Sak Deg Sak Nyet

Perjalanan pagi ini menuju perumahan Plamongan Indah di ujung kota Semarang, tempat kakak pertama saya tinggal, terasa sangat melelahkan. Betapa tidak, suhu di Semarang pagi ini bukan main panasnya, 42 derajat celsius. 

Motor tua kesayangan saya, saya pacu dengan kecepatan di atas rata-rata dengan harapan segera sampai di target tujuan saya. Segera sampai berarti segera terhindar dari rasa panas yang menyengat dan segera mendapatkan segelas air dingin yang melegakan tenggorokan.

Namun apa daya, jalanan pagi ini cukup ramai. Nampaknya bukan hanya saya saja yang ingin segera sampai di tujuan, beberapa orang terasa berlomba untuk saling mendahului dan mencari celah di antara barisan kendaraan hanya untuk berada di tempat yang terdepan.

Saat berhenti di perempatan lampu merah yang kesekian dari kos saya, saya mendengar suara sirine polisi dari arah belakang. "Wah, ada pejabat yang menang-menangan mau lewat nih sehingga semua orang dipaksa memberi jalan," pikir saya. Tak berapa lama, nampak motor polisi mengawal ambulans dan serombongan mobil pengiring jenasah. Oh, ada lelayu nampaknya, saya memakluminya.

Melihat lampu merah akan segera berganti hijau, saya mengambil ancang-ancang untuk segera melaju dan tentu saja dengan memperlambat kecepatan sehingga tetap berada di belakang iring-iringan tersebut. 

Baru jalan beberapa puluh meter, saya melihat rombongan iring-iringan ambulans tersebut berhenti dan membuat garis lurus, sepertinya mereka mengatur ulang susunan iring-iringan mobil di belakang ambulans. Beberapa kendaraan tak sabar menunggu di belakang rombongan tersebut sehingga mengambil sisi sebelah kanan untuk menyalib. Satu dua detik saya berpikir dan kemudian memutuskan untuk mengikuti jejak beberapa kendaraan itu. Yah, untuk menghindari kemacetan.

Semenit kemudian saya mendengar suara sirine kembali mendekat. "Aduh, bisa terjebak lagi di belakang rombongan itu deh," batin saya. Alhasil saya tancap gas, untuk menghindar dari kemacetan, seakan-akan saya sedang berlomba dengan suara sirine tersebut. Semakin keras suara sirine terdengar, semakin saya menambah kecepatan. Semakin melemah suara sirine semakin tenang saya.

Dan ketika suara itu tidak lagi terdengar, saya merasa puas dan menang. Astaga, saya tersentak, apa yang saya lakukan ini? Sebenarnya saya menang atas apa? Bukankah saya justru menjadi pribadi yang kalah? Pribadi yang tidak sabaran dan mementingkan diri saya sendiri? Seorang yang ingin serba cepat dan segera sampai di tujuan? Seorang yang tidak mau mengalah dan memberi ruang empati pada sekelompok orang yang berduka?

Refleks, saya kendurkan tangan kanan saya mengurangi kecepatan motor saya. Hati dan pikiran saya melakukan kontemplasi ringan di sepanjang perjalanan. Rasanya bukan pagi ini saja saya menemukan diri saya sebagai pribadi yang tidak sabaran, yang ingin serba cepat dalam mencapai tujuan.

Saya teringat ucapan koster kantor kami yang mengatakan kalau saya ini suka "Sak deg sak nyet" ketika menyuruh dia melakukan sesuatu. Meminta sesuatu untuk dilakukan seketika itu juga, tidak pakai lama dan sesegera mungkin. Dengan kata lain, saya tidak sabar dan tidak memberi ruang bagi fleksibilitas dan kompromi dengan melihat situasi, kepentingan dan perasaan orang lain.

Oh Tuhan, betapa sering saya mengecewakan-Mu dalam hal kesabaran. Ketika membawa motor di jalan saya tidak sabar. Ketika menyuruh seseorang melakukan sesuatu saya tidak sabar menunggu. Ketika saya antri di bank atau tempat publik lainnya, saya ingin segera dilayani. Ketika melihat ada orang lain mengambil tempat dan hak yang seharusnya menjadi bagian saya, saya begitu cepat menjadi emosi dan merasa diperlakukan tidak adil. Bahkan ketika berdoa dan Kau tidak menjawab dengan cepat dan tepat, saya begitu mudah menjadi kecewa dan mendiskreditkan PribadiMu yang penuh Kasih dan Setia. 

Menjadi sabar dalam hidup ini ternyata tidak mudah. Orientasi pada hasil dan keinginan untuk menjadi yang terdahulu dan menjadi pihak yang dihargai serta diutamakan membuat hati tidak memiliki cukup ruang untuk mengolah kesabaran.

Sebenarnya jika kesabaran mendapatkan porsi dan tempat yang selayaknya dalam setiap fase perjalanan kehidupan, bukankah hidup ini terasa lebih nyaman untuk dijalani. Manusia tidak akan merasa diburu, dikejar bahkan diintimidasi oleh waktu dan keadaan. Ketidaksabaran tidak akan pernah menambah jumlah waktu yang signifikan. Ketidaksabaran saya ketika di jalan pagi ini paling hanya menambah sekian detik lebih cepat saja. Namun malah membuat motor saya menjadi kurang awet karena dipaksa melaju dengan kecepatan tidak stabil.

Sebaliknya, kesabaran memang nampaknya membuat waktu sedikit hilang atau berkurang, namun justru menciptakan moment yang tidak sebanding dengan waktu yang terbuang. Bukankah kesabaran menciptakan moment berharga bagi diri sendiri, orang lain dan Tuhan?

Moment untuk memberikan apresiasi bagi diri sendiri dan memberikan kesempatan bagi diri sendiri untuk bertumbuh? 

Moment untuk menilik, menghargai, memperhatikan, berempati dan bahkan berbagi dengan orang lain? Orang yang berkendara terlalu cepat di pegunungan, pastilah tidak dapat menikmati pemandangan di kanan kirinya dan tidak dapat melihat bahwa ada seseorang yang menadahkan tangan di sisi jalan.

Moment untuk menikmati proses yang sedang Tuhan kerjakan atas hidup kita. Ketika Tuhan belum menjawab, kita masih dapat bersyukur dan mempercayai janji setiaNya. Dan bila tiba waktunya bagi jawaban doa kita, kita dapat dengan sukacita mengatakan "Semua indah pada waktu-Nya." Seorang yang tidak bersabar tidak berkesempatan melalui fase-fase ini.

Tuhan tolong saya untuk tidak menjadi pribadi yang "Sak deg sak nyet". Ajar saya untuk menikmati dan mencintai proses kehidupan yang Tuhan ijinkan untuk saya alami.


"Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23)



 Sompok Lama, 3 November 2013




 







Jumat, 01 November 2013

Mencintai hingga terluka

Mencintai hingga terluka
mengandung dua sisi yang kontradiktori namun harmoni
akal budi dan rasa hati
kebahagiaan dan penderitaan
sukacita dan air mata
tebing tinggi-curam dan narasi alam
ekspresi-afirmasi diri dan devosi

...perih namun menyukakan....

okay, I'll take this challenge.... Will you?

Kamis, 31 Oktober 2013

PENA Sang Penanya



PENA Sang Penanya

Terkadang hidup ini sedemikian sederhananya untuk dibuat sedemikian sulitnya. Dalam hidup ini yang dibutuhkan hanyalah sebuah tanda titik, namun seringkali yang muncul adalah sekian tanda baca lainnya. Dan yang paling sering muncul adalah tanda tanya (?) dan koma (,).

Dibutuhkan hanya sebuah titik untuk mengakhiri sebuah kalimat, bukan 2 titik (..) atau bahkan sekian banyak titik membentang (…………………)

Hidup ini laksana rangkaian kalimat yang tertera dalam sebuah buku. Jika di setiap kalimat terdapat beberapa titik, kapankah kalimat itu akan berhenti? Dan seberapa tebal buku itu nantinya?

Penundukan diri terhadap Allah merupakan satu titik yang sangat penting untuk mengakhiri setiap kalimat kasih Allah dengan sempurna.
Namun acapkali yang kita lakukan adalah menambah titik itu menjadi lebih panjang. Dengan kata lain, kalimat kasih Allah yang seharusnya sempurna menjadi sebuah kalimat kasih yang terbuka. Terbuka bagi masukan, keinginan, dosa dan ego kita semata. Sehingga kalimat kasih Allah menjadi tidak sempurna.

Pun juga betapa sering manusia mengganti titik dalam kalimat kasih Allah dengan tanda tanya (?). Manusia senantiasa mempertanyakan hal-hal yang bahkan jauh dari kata krusial dan penting. Mempertanyakan kalimat kasih Allah berarti mempertanyakan Sang Pengucap itu sendiri.

Dan juga betapa terlalu sering manusia meletakkan tanda koma (,) di tengah-tengah kalimat kasih Allah dan lebih hebatnya lagi adalah menambah beberapa kata setelah koma itu sendiri.

Kehendak bebas manusia justru dianggap sebagai sebuah pembenaran untuk manusia sedikit mencari jalan dan arah hidupnya sendiri, sambil terus beranggapan bahwa jalannya tetap akan kembali ke jalan Allah karena jalan alternatif yang dipilih hanyalah sebuah koma saja.

Atau juga sebagai pembenaran untuk mendebat Allah dengan jalanNya yang cenderung tidak masuk akal dan diluar nalar. Kecerdasan manusia untuk mencipta karya menjadi dalih keabsahan mempertanyakan kebenaran keputusan dan jalan Allah.

Manusia terlupa bahwa Allah Sang Pencipta, Sang Pengasih dan sederet atribut luar biasa lainnya adalah Dia yang Maha SEMPURNA. Setiap kalimat kasihNya adalah sempurna adanya. Sesempurna itu pula kehendak baikNya bagi manusia. Jika manusia memilih untuk tidak menambah apapun dalam kalimat kasihNya, maka sangat mudahlah bagi Dia untuk memperlihatkan rencana indahNya.

Letakkanlah pena kita, dan jauhkanlah dalam buku kehidupan kita yang penuh dengan kalimat-kalimat kasih Allah. Sekedar membaca dan mengiyakan setiap titik dalam kalimat-kalimat kasih Allah. Pun rencana indah Allah akan terlihat jelas dan bukan semburat atapun samar-samar.

Selama membaca!!!



Perempuan Berpunggung Retak


PEREMPUAN BERPUNGGUNG RETAK

Musik….
Narator:
Perempuan berpunggung retak
Terduduk diam di antara dedaunan terserak
Cerminan hati yang hampir tiada berdetak
Di selaksa tempaan menghentak
Ah…roda sepertinya tiada bergerak


Lampu padam
Suara musik mengalun pelan….Lampu mulai menyorot ke perempuan.
Sang perempuan terduduk lunglai. Menatap kosong ke depan (tablo atau sedikit bergerak saja)

Perempuan    : ………..Aku perempuan berpunggung retak…(suara lirih)

Musik mengalun…..lampu menyorot sisi lain. Laki-laki berdiri.
Laki-laki 1      : (berbicara tanpa melihat ke arah perempuan) Ah...Hidup ini terlalu indah. Pesona demi pesona senantiasa hadir mengiringi bianglala kehidupan ini. Lihat...langit terlalu bersih bagi sebuah goresan saja. Dan daratan terlalu landai untuk dianggap curam. Hidup sungguh tiada berujung (tersenyum bahagia)

Musik masih mengalun lembut....menjadi semakin lirih...

Perempuan    : ………..Aku perempuan berpunggung retak…(suara lirih)
Laki-laki         : (melihat ke arah perempuan, tapi tidak bergerak) Ah kau masih pula terduduk disitu. Sudah berapa kali jarum jam berganti, tapi kau tiada pula beranjak!
Perempuan    : ....Aku...perempuan......(suara masih lirih, dipotong tiba-tiba oleh laki-laki1)
Laki-laki         : Hentikan keluhanmu. Tak ku perhatikan ada bagian punggungmu yang retak. Masih pula terlihat utuh di mataku.
Perempuan    : .....berpunggung retak (melihat sebentar ke arah laki-laki1, tapi tidak menghiraukan perkataannya).
Laki-laki 1      : arggh...bosan aku...(musik menjadi lebih cepat,lampu mati, laki-laki1 tablo)
Musik mengalun lembut kembali.
Lampu menyorot tengah ke arah laki-laki2
Laki-laki 2      : Hidup ini hanya sekedar......bukan hanya sekedar hidup
Perempuan    : .......roda tiada berputar lagi.....
Laki-laki 2      : Sekedar melakonkan peran.....sekedar memaksimalkan kemampuan.. sekedar menjalani tanpa meratapi.
Perempuan    : .......tapi roda tiada berputar lagi.....(nada suara agak meninggi sambil menatap sinis laki-laki2)
Laki-laki 2      : (tersenyum teduh) sekedar bersyukur dapat menghadirkan sejuta kedamaian. Hidup tidak berlalu tanpa dia mampir mengajar sebentar.
Perempuan    : (berdiri, memandang laki-laki2 dan emosi memuncak)...Tapi roda berhenti dan tidak berputar lagi!!!!!
Laki-laki 2      : (tersenyum lebih teduh) Sang pembuat roda hanya bertugas untuk membuat. Kau yang menjalankannya. Nah....kaulah yang membuat roda berhenti.
Perempuan merasa bingung dengan pernyataan itu.
Lampu menyorot laki-laki1
Laki-laki1       : Ha..ha....haa......Akhirnya kau berdiri juga....Sudah lelahkah kau bertumpu di atas dedaunan itu? Ha..ha...haa...
Perempuan    : Diam kau !!! Aku masih berpunggung retak!!!
Laki-laki 2      : Kalau kau mau sedikit saja menengadahkan wajahmu keatas.....
Perempuan melakukannya..
Perempuan    : Apa yang kau maksud? Tak pula kulihat apapun diatas sana.
Laki-laki 2      : Sang Lelaki yang duduk diatas sana, berpunggung lebih retak darimu, memanggul lebih berat dari bebanMu. Dia lebih berhak mengeluh daripada engkau.
Perempuan    : (bingung) Masih tak nampak apapun di atas sana.....hanya kegelapan saja.....
Laki-laki 1      : (sinis) sampai kapanpun tiada akan kau temukan Orang itu!!!
Laki-laki 2      : Perhatikan dengan lebih seksama. Buka mata dan juga hatimu. Maka akan kau lihat Dia. (melihat ke atas sambil menunjuk)
Perempuan    : ......sebentar.....Yang kulihat hanyalah sebuah Salib......
Laki-laki 1      : Ah percuma saja kau melihat Salib itu, kau masih tetap akan berpunggung retak......berpunggung retak.....BERPUNGGUNG RETAK.....hahahaha (lampu padam, Laki-laki1 tablo sambil duduk tertunduk)
Laki-laki 2      : Lihatlah sekali lagi. Di atas salib itu tersandar Dia yang berpunggung retak. Dia masih tersenyum meski beban yang Dia tanggung jauh lebih berat dari milikmu. Dia mau memikul beban karena Sang Bapa yang mengutusNya. Siapa yang mengetahui rahasia alam selain daripada Sang Pencipta Alam itu sendiri. Siapa yang mengetahui beratnya beban yang kau sandang selain dari Sang Anak yang telah lebih dahulu memikul berat beban dosa manusia.
(perempuan tertunduk penuh penyesalan...lirih....tertampar)
Perempuan    : ..ah.....punggung ini masih terasa retak.....Tapi bebanku akan terasa lebih ringan.....jika aku memberikan bebanku padaNya.....karena Dia yang disalib menanggung bebanku.....
Laki-laki 2      : Berhentilah terpaku pada punggungmu dan beralihlah pada roda milikmu......Selama Kau ijinkan Dia memikul bebanmu dan membebat punggungmu, maka rodamu akan kembali berputar.....Berbahagialah.... (lampu padam, laki-laki2 tablo)
Perempuan    : AKU PEREMPUAN BERPUNGGUNG RETAK, BERTUMPU PADA DIA YANG MEMBUAT RODAKU BERGERAK!!!!





Ringkasan   :
Anak manusia yang merasa berbeban sangat berat dan tidak sanggup menghadapi hidup. Tapi ketika dia melihat kembali kepada Salib, dia merasa kuat dan sanggup bangkit karena bersandar pada Yesus. Si iblis berusaha memainkan perasaannya, tapi saat dia bertetap hati untuk mengikuti nuraninya, dia menemukan sang Pembebat.



Jumat, 20 September 2013

Chrysalis

Seekor ulat kecil berjalan pelan di atas dedaunan
terpukau melihat beberapa kupu-kupu cantik
terbang dengan sayap-sayapnya yang indah mengembang

Terlintas pesan ibunya,
"Kau akan menjadi kupu-kupu yang cantik
jika masanya tiba."

Dibentangkannya luas-luas asa dan harapannya
suatu hari ia akan menjadi salah satu kupu-kupu cantik
yang saat itu dilihatnya sedang hinggap di kuncup bunga
yang mustahil digapainya saat ini

Sambil tersenyum ia kembali merayap di dedaunan
dengan senandung nada riang dalam hatinya

Hari berganti hari
sang ulat bertambah besar,
masih bertengger di dedaunan
berpindah dari satu daun ke daun lainnya.

Senyuman mulai meredup
seiring harapannya yang menipis
dan mulai menguap

di titik ini keniscayaan terasa begitu nyata
di titik mana lagi dia harus bertolak demi meraih asanya

Sang ibu tak lagi di sisinya,
tak lagi bisa meredakan kegelisahannya
penantian akan waktu dan masa yang terasa tak berambang batas

Meski suara kawan terasa merdu,
baginya masih terasa sumbang
bahkan tak lagi terdengar
hanya sepi yang hinggap
jiwa seakan tak bertuan

Ia pun menepi, mencari tempat menyandarkan diri
sudah bukan lagi masa untuk mencari makan
anyaman benang satu persatu disambutnya
masih dengan kegelisahan
apakah asa itu akan terwujud?
atau hanya terhenti disini?

Andai hidup boleh tidak memilih
ia tidak memilih proses ini

Namun toh sedikit asa yang masih tersisa meski tidak menggelora
membantunya menetapkan hati untuk menjalani proses

Waktu nampak berjalan terlampau pelan baginya
asa nampak tak sebanding dengan penantian
ingin mengakhiri namun asa masih bersuara

Ia memilih bertahan
berusaha menikmati meski tidak mudah

.....................................
....................................
Pengorbanan terbayar sudah
penantian telah berbuahkan hasil
sang ulat merangkak naik keluar dari pupa
menjadi seekor Kupu-kupu manis

Senyum mengembang
pengorbanan terasa sebanding
penantian tak patut lagi dihitung
dipandangnya dengan puas kepompongnya yang kosong

I've made it.
My waiting is worth enough.