Kamis, 06 Maret 2014

Lusuh namun bernilai, bercela namun dicinta



(Ambro Julian Montolalu)


Pagi menjelang siang ini, aku sedang mencari sebuah file dalam komputerku sambil memutar lagu-lagu kesayangan milik Ebiet G. Ade. Secara tak sengaja kutemukan foto dimana aku baru selesai mengikuti sebuah seminar di Makassar Golden Hotel beberapa tahun yang lalu. Aku kembali teringat tentang sebuah permainan yang dibuat oleh seorang pembicara pada salah satu sesi acara.

Permainannya seperti ini: Sang pembicara mengeluarkan satu lembar uang pecahan Rp. 50.000,- dari dalam dompetnya lalu bertanya, “Siapa yang ingin uang ini..?” Sontak sebagian besar peserta langsung mengacungkan tangannya, tak terkecuali aku (aku tidak sempat menghitung berapa pemilik tangan kanan dan berapa orang yang memiliki tangan kiri). Memang ada beberapa peserta yang tidak ikut-ikutan mengacungkan tangannya dengan berbagai alasan. Mungkin karena uangnya lebih banyak dari aku. Atau mungkin karena takut ketahuan kalau keteknya bau (xixixixi).

Si pembicara kemudian meremas-remas uang itu hingga lusuh dan beberapa saat kemudian kembali bertanya “Siapa yang mau dengan uang ini..?” Tinggal separuh dari peserta yang masih mengacungkan tangan. Aku ada di antara mereka yang tidak lagi ikut-ikutan karena kupikir ini hanyalah sebuah permainan.

Selanjutnya pembicara itu membuang uang tersebut ke lantai dan sesaat kemudian menginjak-injak uang itu sampai menjadi kotor oleh debu lantai dan telapak sepatunya.
“Masih adakah yang mau dengan uang itu..?” si pembicara bertanya. Hanya ada kira-kira 40
-50 orang peserta yang masih setia mengacungkan tangannya. Terakhir si pembicara bertanya lagi “Siapa yang mau mengambil uang itu..?” Dari ratusan peserta, hanya ada seorang ibu yang tiba-tiba berdiri dan maju ke depan kemudian memungut uang itu. Dan benar, uang itu kemudian menjadi milik si ibu. Sementara peserta lain sangat menyesal setelah mengetahui ternyata seperti itu permainannya.

TUHAN memberi makan burung-burung, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang..” Itulah kalimat yang dilontarkan si pembicara untuk menjelaskan apa makna dari permainan dengan uang Rp. 50.000,- tadi. Bahwa Tuhan telah menyediakan rejeki yang baik buat kita asal kita mengusahakannya dengan bekerja keras, menangkap peluang walau pun mungkin kelihatannya pekerjaan atau peluang yang ada di depan kita kadang tidak cocok atau tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kadang Tuhan memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.
Aku setuju dengan ilustrasi dari permainan uang di atas, tetapi siang ini aku coba melihat permainan tersebut dari sudut pandang lain dan aku belajar sesuatu hal berharga dari permainan itu.

Ternyata walaupun oleh si pembicara uang itu diperlakukan sedemikian rupa, tetapi tidak akan mengurangi nilai dari nominal uang tersebut dan tetap berfungsi sebagai mata uang yang sah senilai Rp. 50.000,-. Saat si ibu membelanjakan uang lusuh nan kotor itu ke Supermarket guna membeli sebuah barang seharga Rp. 11.750,- maka sudah pasti kembaliannya adalah 1 lembar pecahan Rp. 20.000,-, 1 lembar pecahan Rp. 10.000,-, 1 lembar pecahan Rp. 5.000,- 1 lembar pecahan Rp. 2.000,- dan 1 koin seribu (maaf, ku paksa Anda menghitung juga hehehe). Dan bisa jadi di antara lembaran-lembaran uang kertas kembalian tadi ada beberapa yang masih baru bahkan mungkin baru tersentuh oleh beberapa tangan saja. Bayangkan saja uang yang sudah lusuh tadi diganti dengan uang yang masih baru. Kemudian yang pintar Matematika bertanya “Kemana yang 250 rupiah..?”  Hehehe.. tenang sobat. Uang sisa itu tidak akan kemana..! Pasti oleh petugas kasir akan diberi 2 butir permen.

Terkadang dalam kehidupan, kita merasa rapuh, kotor, lusuh, terinjak dan tak berguna karena kita pernah melakukan sesuatu yang salah di masa lalu. Kita mungkin sering mengeluh atas ujian hidup yang Tuhan berikan. Kita merasa tak berharga di mata keluarga, kerabat, teman-teman dan lingkungan sekitar kita. Kita merasa tidak berhak untuk sesuatu yang baik di masa kini.

Di pihak lain, sering juga kita melakukan tindakan diskriminatif terhadap orang-orang yang di masa lalunya mungkin telah melakukan tindakan-tindakan tak terpuji. Kita sering curiga dengan orang-orang ini. Kita sering menjauhi mereka dan menempatkan mereka seperti orang tak berharga. Kita seolah-olah menutup mata terhadap mereka yang ingin berubah menjadi baik. Mereka pada akhirnya mengeluh seperti lagu Ebiet G. Ade berikut ini:

Kalian Dengarkan Keluhanku

Dari pintu ke pintu ku coba tawarkan nama.
Demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya.
Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga.
Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku.

Apakah buku diri ini harus selalu hitam pekat.?
Apakah dalam sejarah orang, mesti jadi pahlawan..?
Sedang Tuhan di atas sana tak pernah menghukum.
Dengan sinar mata-Nya yang lebih tajam dari matahari.

Kemanakah sirnanya nurani embun pagi.
Yang biasanya ramah, kini membakar hati.
Apakah bila terlanjur salah, akan tetap di anggap salah..?
Tak ada waktu lagi benahi diri..?
Tak ada tempat lagi untuk kembali..?

Kembali dari keterasingan ke bumi beradab.
Ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang.
Tuhan bimbinglah batin ini agar tak gelap mata.
Dan sampaikanlah rasa inginku kembali bersatu..

Seperti aku yang tak pernah suka dengan diriku di masa lalu, aku pun yakin bahwa seburuk-buruknya perbuatan seseorang di masa lalu, dia pasti tidak menyukainya di kehidupan sekarang.

Tenang saja sobatku. Percayalah bahwa, apa pun yang pernah terjadi di masa lalu kita, kita tetap bernilai di mata Allah. Karena bagi Allah, kotor, lusuh, ternoda dan sebagainya, pasti akan selalu ada pengampunan dari pada-Nya. Momen masa Adven ini semoga kita jadikan kesempatan memperbaiki diri dan mohon pengampunan atas dosa-dosa kita, sehingga nantinya Tuhan Yesus layak lahir dan tinggal dalam hati kita, dan kita semakin bernilai di hadapan Allah.. Amin. 

Renungan menjelang Adven ke-3

Pinenek, 13 Des 2013

Perempuan dan Sampan


Seorang perempuan bergegas melepas tali sampan untuk segera berkayuh ke seberang danau. Entah apa yang membuatnya terkesan terburu-buru. Mungkin karena langit nampak tak bersahabat kala itu. Mendung berarak arak, atau juga karena sebab lain, aku tak tahu.
Kulihat ia nampak cemas memandang ke belakang, ke depan, kemudian menunduk kembali berusaha melepas simpul ikatan tali. Nampaknya ia mengalami kesulitan. Tangannya beberapa kali dihentakkan di tiang pancang tempat tali itu tersimpul, saat jari jemarinya tak kuasa melepas sampannya. Dicobanya berulang kali namun nampaknya tak jua berhasil.
Ah airmatanya mulai berlinang. Sambil sesekali melihat ke belakang ia terus berusaha melepas tali itu. Kucoba mencari sesuatu ke arah mana ia tadi menatap. Tak kutemukan sesuatu atau seseorang disana. Entah apa yang ia cemaskan, aku tak tahu.
Dan kemudian kulihat ia mulai mengendurkan tangannya. Sambil berlinang air mata, ia terduduk di depan tonggak kayu itu. Ia sekarang menatap sampannya dalam-dalam sambil sesekali mengusap airmata yang berderai di pipinya. Kulihat beberapa kali bahunya berguncang, tanda bahwa ada hal yang menyesakkan dadanya. Apakah karena tali yang tak kunjung lepas atau karena sampannya atau karena apa, aku tak tahu.
Cukup lama ia terduduk di situ. Lambat laun tak kulihat lagi bahunya berguncang. Pun air mata mulai berkurang. Ia nampak lebih tenang, meski ia masih terlihat cemas di mataku.
Beberapa kali ia menghela nafas panjang, menyibakkan beberapa anak rambut di dahi dan pipinya yang turut basah karena airmata. ia sekarang melihat ke depan. Bukan tatapan kosong kukira, namun karena ia memandang sesuatu di seberang sana. Kali ini kuarahkan tatapanku mengikuti arah tatapan matanya, namun tak kujumpai apapun di ujung sana. Ah entah apa yang ia pandang saat ini, aku tak tahu.
Aku tersentak, tiba-tiba ia berdiri dan mulai menyunggingkan senyuman di bibirnya yang nampak pucat. Aku menunggu dengan penasaran apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Namun, ia seakan mempermainkan rasa penasaranku. Ia masih saja berdiri mematung dengan senyuman di bibirnya. Hanya baju dan rambutnya saja yang bergerak tertiup angin. Ah, aku harus bersabar menanti babak berikutnya.
Setelah beberapa saat, akhirnya kulihat ia bergerak. Ia mengangkat kedua tangannya di depan dadanya, mengamati jari-jemarinya sendiri, menggerakkan jari jemari itu bergantian dan kemudian menangkupkannya beberapa kali dalam beberapa bentuk.
Kulihat senyumnya semakin mengembang. Dilambaikan tangan kanannya tinggi-tinggi ke arah ia menatap ke depan tadi. Aku masih saja heran dengan apa yang ia kerjakan. Tak ada seorangpun di ujung sana. Mengapa ia melambaikan tangan ke arah itu? Hanya kulihat warna kabut putih di sisi seberang itu.
Ia memutar tubuhnya, sekarang kembali menatap tonggak kayu tempat tali sampannya tertambat. Kali ini ia berusaha membuka dengan tenang. Tak lagi kulihat tangannya yang gemetaran pun tatapan cemas ke arah belakang seperti sebelumnya. 
"Ayolah, kau pasti bisa melakukannya", tanpa sadar aku berucap dengan harapan ia dapat melepas tali itu. Pelan namun pasti, jari jemarinya menarik dan mengurai sedikit demi sedikit simpul tali itu. Ah nampaknya ia berhasil kali ini. Mungkin ketenangan memberinya keleluasaan untuk mengurai simpul itu, aku tak tahu.
Namun tiba-tiba ia terhenti saat simpul itu tinggal sedikit saja terurai dan lepas. Kembali kulihat ia menghela satu nafas panjang. Dan ia menoleh ke arah belakang beberapa detik, sebelum kemudian kembali melepaskan tali dengan satu hentakan kecil saja.
Ia meloncat sambil tangannya mengenggam tali yang sudah terlepas. Ia tersenyum lebar sekarang. Dan anehnya, ia kembali melambaikan tangan ke arah seberang, seakan ingin menunjukkan bahwa ia telah berhasil melepas tali itu. Menunjukkan kepada siapa? Aku tak tahu.
Sejurus kemudian ia menengadah ke langit, membuat dua kali helaan nafas panjang dan kembali tersenyum lebar. Aku turut merasakan kebahagiaannya. Kebahagiaan atas apa? Aku tak tahu.
Lalu kuperhatikan ia mulai menuruni beberapa anak tangga dermaga menuju ke sampannya. Meski sampannya beberapa kali bergerak karena riak-riak kecil, tak kulihat lagi kecemasannya, yang kutangkap hanya kebahagiaan semata.
Gerimis yang mulai turun tak menyurutkan langkahnya untuk mengayuh sampannya. Kucoba mengamati ke arah mana ia mengayuh. Ah ternyata ia menuju ke seberang ke arah mana ia melambaikan tangannya tadi. Rasa penasaran membuatku tak ingin beranjak dari tempat aku mengawasinya saat ini, di tepian danau di sebalik pohon tua.
Ia terus menatap ke depan sambil mengayuh perlahan. Semakin dekat nampaknya dengan tujuannya, karena kulihat ia semakin mempercepat kayuhan sampan dan semakin lebar kulihat senyum di bibirnya. Ah...mengapa pula kabut di depan itu tak jua menghilang. Aku sangat ingin melihat apakah ada sesuatu atau seseorang di sana yang menunggunya. Ingin pula rasanya aku berada satu sampan dengan perempuan itu untuk membantunya mengayuh lebih cepat. Sesaat tujuannya menjadi tujuan hatiku juga.
Dan penantianku terbayar sudah. Alam nampak berpihak kepadanya – dan juga kepadaku - saat ini. Gerimis sudah usai, dan kabut mulai tersibak. Aha...... akhirnya kutahu apa yang ada di sisi seberang itu. Kulihat seorang lelaki berdiri di atas dermaga, di samping sebuah tonggak kayu. Senyumnya nampak hangat dan melegakan. Ia menuruni anak tangga yang kulihat lebih tinggi dari anak tangga dermaga sebelumnya, untuk menyambut perempuan itu.
Perempuan itu dengan gembira mengulurkan tangan dan menggapai tangan kanan lelaki itu. Tak kulihat mereka mengucapkan sepatah kata. Hanya tersenyum dan perlahan bersama menaiki tangga dermaga, menuju tonggak kayu yang terpancang kuat di sisi kiri dermaga itu. Perempuan itu menambatkan tali sampannya di tonggak itu. Kulihat sang lelaki mencoba membantunya, namun dengan halus perempuan itu membuat gerakan menolak. "Biarkan aku melakukannya sendiri," kuterjemahkan gerakan tubuhnya dengan kalimat demikian. Entah apa sebabnya, aku tak tahu.
Dan setelah tali itu berhasil terikat erat, kulihat mereka berdua berjalan meninggalkan dermaga dengan langkah ringan dan senyuman bahagia. Meski aku ingin tahu kisah mereka, namun tak perlu ku mendengar bahasa cerita mereka. Yang aku tahu mereka bahagia dan kebahagiaan itu tertular padaku. Apakah aku akan tetap berada di tempatku saat ini untuk melihat apa yang terjadi di masa mendatang atas mereka berdua? Ah, aku tahu, aku tak perlu melakukan itu. Saat kutinggalkan tempat ini, sayup kudengar seseorang berkata dari jarak yang jauh, "Telah kulepas tali masa lalu demi lelaki yang setia menanti dan menemaniku untuk masa depan” Apakah itu suara sang perempuan itu? Ah mengapa pula masih tersisa pertanyaan bagiku? Bukankah sudah cukup rasa bahagia yang membuncah di hatiku saat ini?




Sompok Lama, 21 November 2013






Derma Sebelas Ribu

Seorang kawan memberikan sebuah tugas yang unik bagi saya: memberikan derma kepada seseorang sebesar Sebelas Ribu Rupiah.

Unik? Di bagian manakah yang unik? Bukankah memberikan derma kepada orang lain, berapapun nominalnya, bukanlah hal yang luar biasa. Banyak orang melakukannya. Apalagi jumlah yang akan didermakan hanya Sebelas Ribu Rupiah saja. Ah, pastilah itu sebuah perkara yang gampang, semudah menjentikkan jari tangan saja.

Ijinkan saya memaparkan kategori unik yang saya maksudkan, terlebih dahulu. Saya sebut tugas itu unik, pertama karena yang memberikan tugas itu adalah seorang kawan yang baru saya kenal tak genap sebulan. Bayangkanlah Anda bertemu seorang kawan baru di sebuah tempat, kemudian saling bertukar nama dan nomor telepon. Dan beberapa saat kemudian kawan baru tersebut memberikan sebuah tugas pada Anda. Bukankah itu unik? Tak biasa kita jumpai. Saat kerabat atau sahabat dekat kita memberikan satu tugas pada Anda, toh tidak serta merta kita lakukan. Ada banyak pertimbangan untuk melakukannya. Apalagi orang asing yang baru kita kenal. Kemungkinan untuk mengiyakan permintaannya sangatlah tipis, meski bukan mustahil untuk dilakukan.

Kedua, tugas itu menyangkut dengan uang. Nah, bukankah segala sesuatu yang berkaitan dengan uang dapat menjadi sebuah isu yang sensitif? Banyak kita temui kasus kejahatan dikarenakan persoalan uang. Hanya karena uang yang nilainya tak seberapa seseorang dapat menyakiti (fisik maupun non fisik) orang terdekatnya. Pepatah jawa yang mengatakan "Tuna Satak Bathi Sanak" yang kurang lebih berarti "Tak apalah merugi segepok uang asal mendapatkan Saudara" nampaknya semakin sulit dijumpai dalam masyarakat yang bergelut dengan kerasnya kehidupan saat ini. Maka, jika ada seorang kawan baru memberi saya tugas berderma Sebelas Ribu Rupiah dan saya menurutinya, bukankah itu satu hal yang unik?

Sebelum saya menceritakan cara saya melakukan derma tersebut dan kepada siapa saya menghaturkan uang yang tidak berjumlah besar tersebut, ada baiknya saya menjelaskan hal yang menjadi latar belakang saya meluluskan permintaan seorang asing tersebut.

Suatu malam dalam perbincangan kami yang ke sekian kali via telepon, tiba-tiba pembicaraan kami terpotong karena pulsa saya habis. Pembicaraan kami berlanjut setelah sang kawan menelpon balik saya. Keesokan hari saya mendapati sms pemberitahuan bahwa ia mentransfer pulsa senilai Sepuluh Ribu Rupiah kepada saya. Saya sempat tersinggung dengan perlakuannya dan bermaksud mentransfer kembali pulsa tersebut, selepas saya mengisi ulang pulsa saya.

Nah, pastilah Anda sudah dapat menebak apa yang terjadi kemudian. Teman baru saya tersebut meminta saya tidak usah mengeksekusi rencana saya untuk mengirim kembali pulsa padanya. Agar tak ada satu pihak pun yang merasa bersalah dan tidak nyaman, maka muncullah tugas unik yang saya sampaikan di awal. Berderma Sebelas Ribu Rupiah. Mengapa tidak Sepuluh Ribu Rupiah? Karena jika saya membeli pulsa nominal tersebut harganya adalah Sebelas Ribu Rupiah.

Tugas unik tersebut saya iyakan dengan kesungguhan hati. Permintaannya saya luluskan bukan hanya karena berusaha menghargai pertemanan kami yang baru seumur anakan jagung yang mintip-mintip namun juga karena saya melihat ini sebagai kesempatan melatih kemurahan hati.

Sore tadi saya berburu mencari seorang yang tepat untuk menerima derma Sebelas Ribu saya. Mungkin Anda berpikir, mengapa saya terlalu ribet dan berbelit. Bukankah mudah menemukan pengemis, pemulung atau pengamen jalanan sebagai sasaran derma saya di bumi Semarang ini pada khususnya dan di bumi Indonesia ini pada umumnya. Mengutip dialek kawan Batak saya, "Macam uang kau bernilai ratusan juta saja bah!"

Bukan, bukan saya berlagak sebagai seorang dermawan yang punya banyak uang untuk dibagi-bagikan dan melakukan seleksi tertentu. Saya hanya ingin merasakan sesuatu yang berbeda di hati saya. Saya ingin mencari seseorang yang kepadanya hati ini tertuju dan terpaut dengan rasa belas kasihan.

Saya mengendarai motor saya mencoba mencari orang yang "tepat" untuk menerima derma Sebelas Ribu Rupiah saya. Saya sengaja berjalan pelan dengan tujuan untuk melihat sekeliling kalau-kalau target saya menampakkan diri. Sekitar 10 menit perjalanan, tiba-tiba saya teringat seseorang yang sering saya lewati saat saya berangkat kerja. Ia kerap saya lihat bermalam di trotoir jalan di dekat lampu merah tak jauh dari kos saya. "Ah, daripada aku kesulitan mencari target dermaku, lebih baik kuberikan kepada laki-laki itu saja," pikir saya.

Dan sejurus kemudian, saya mencari jalan untuk kembali ke kos saya. Saya mencari jalan pulang yang berbeda. Saya mengambil arah sedikit melingkar karena saya ingin mencari suasana yang berbeda.

Saat hendak melewati pasar, tiba-tiba mata saya tertuju pada seorang laki-laki tua tanpa alas kaki yang berjalan dengan memakai tongkat tinggi. Sekilas saya melihatnya meminta-minta pada salah seorang pemilik warung di bagian depan pasar. Motor saya masih berjalan pelan dan melewati laki-laki tua itu.

Beberapa detik saya ijinkan hati saya menimbang-nimbang untuk memberikan derma kepada siapa. Apakah kepada seorang yang sering saya lihat di dekat Lampu merah atau lelaki tua yang baru saya jumpai ini. Hati ini terasa lebih condong pada lelaki tua yang baru saya jumpai ini. Akhirnya saya mantapkan hati saya. Segera motor saya hentikan. Dan mengingat jalan searah, saya harus memarkir motor di parkiran terdekat dan mencari target sasaran saya dengan berjalan kaki.

Tanpa kesulitan saya segera dapat mengikuti jejak sang Bapak, dan sedikit berjalan cepat saya mencoba lebih mendekat padanya. Di lampu merah ia memilih jalan ke kanan. Saya sigap mengikutinya, dan ketika tinggal 2 meter jarak di antara kami, saya melihat deretan kendaran yang berhenti di garis batas lampu merah menghadap kepada kami. Sesaat saya ragu dan menimbang-nimbang apakah saya akan tetap membuntuti Bapak ini sampai ke tempat yang cukup sepi baru kemudian menyerahkan uang yang tak bernilai banyak ini. Atau saya berikan saat ini pula, dengan risiko akan ada banyak mata yang memandang saya dengan berbagai penilaian mereka. Ah, saya tegur diri saya sendiri. Apa yang saya pikirkan sekarang, kenapa fokus misinya menjadi berubah? Mengapa sekarang saya memikirkan diri saya sendiri dan bukannya si Bapak yang mungkin sedang menanti derma yang masih saya genggam erat ini.

Maka saya putuskan berjalan lebih cepat dan menghentikan langkah si Bapak. Tak banyak kata yang saya ucapkan, "Mbah, ini untuk panjenengan." Dan sesaat saya baru sadar bahwa salah satu matanya buta. Oh, betapa hati saya bertambah berdebar dengan rasa damai dan sukacita. Ia menjawab dengan tersenyum, "Terima kasih, hati-hati di jalan." Ia tak mengucapkan sederet doa yang ditujukan untuk saya seperti yang biasanya disampaikan kebanyakan peminta-minta seusai kita memberikan beberapa koin rupiah. Saya tahu ia tulus berpesan demikian pada saya.

Ah...usai sudah tugas ini saya laksanakan. Dengan hati dan langkah yang ringan saya kembali menuju tempat parkir sepeda motor. Saya tidak memusingkan diri dengan apa yang mungkin dipikirkan oleh orang-orang yang melihat apa yang telah saya lakukan, apakah mereka memuji, mencibir atau tidak peduli. Yang terpenting hati saya lega dan damai karena tugas dari seorang kawan telah saya tuntaskan. Dan juga tugas dari diri saya sendiri. Teman saya memberikan tugas berderma Sebelas Ribu Rupiah dan diri saya memberikan tugas untuk melipatgandakan derma tersebut. Dan rasa damai ini nilainya jauh berlipat-lipat dibanding derma yang saya dan teman saya berikan.

Saya hampiri motor saya, dan bergegas untuk segera pulang karena gerimis sudah mulai turun. Sempat terpikir tentang sang Bapak, apakah ia menemukan tempat berteduh jika hujan tiba nanti, atau apakah ia bisa bermalam di rumah, bahkan apakah ia memiliki rumah yang layak baginya? Ah...mengapa saya mesti berpikir lebih jauh yang daripada saya pikirkan. Tentulah Tuhan dalam segala rahmat dan keadilannya akan memelihara Bapak tua tadi dan menggerakkan orang-orang untuk berderma baginya, seberapa dan apapun bentuknya.

Seiring gerimis yang semakin banyak turun, saya mempercayai berkat Tuhan pastilah lebih banyak dari itu. Seberapapun yang kita berikan untuk orang lain dalam ketulusan tak akan pernah mengurangi berkat Tuhan dalam hidup kita. Bisik saya dalam hati, "Maka Tuhan, tetaplah gerakkan hati saya untuk memberi kepada sesama, seberapapun yang saya miliki."


Sompok Lama, akhir November 2013
















Selasa, 04 Maret 2014

Tanya tak berjawab

Menjadi seorang perempuan single di usia 30an bukanlah perkara yang mudah di tengah lingkungan sosial yang acapkali melihat segala sesuatu dengan standar "pada umumnya." Apalagi bagi saya, seorang perempuan Jawa. Setiap kali bertemu kerabat dalam acara-acara keluarga, pertanyaan seputar mengapa belum menikah meluncur dari bibir sejumlah orang dekat.

Terlebih ketika berada di sebuah acara pernikahan, baik pernikahan saudara maupun kawan. Kalimat, "Kapan nih nyusul?" terasa menjadi sebuah sindiran ketimbang pertanyaan. Istilah jawanya, mak jleb di hati dan ingin rasanya segera undur diri dari keramaian sambil tetap menyunggingkan senyuman manis khas saya meski batin sedikit teriris. Saya tahu mereka tak berniat jahat kala mengutarakan pertanyaan tersebut, hanya bentuk perhatian saja, yang sayangnya pertanyaan dengan isu sensitif tersebut sedemikian mudah saya tangkap bermakna lain.

Bukan, bukan saya tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, namun sepertinya apapun jawaban saya baik diplomatis maupun ungkapan hati, rasanya toh tidak dapat membendung pemikiran orang lain terhadap "kenyataan" bahwa saya belum juga menikah.

Beberapa orang mulai bermain dengan pemikiran mereka sendiri dan menebak-nebak alasan atau penyebab mengapa saya tidak jua kunjung menikah. Beberapa berkata, Mungkin kamu terlalu pemilih? Calon suami seperti apalagi yang kamu cari? Sudahlah jangan berharap terlalu tinggi, realistislah, turunkan standarmu, maka kamu akan segera menikah.

Hmmm, apakah benar saya terlalu picky? Salahkah saya jika saya berharap memperoleh seorang suami yang seiman, berkarakter baik, yang melengkapi saya dan menjadi partner yang sepadan dan sevisi dengan saya? Saya rasa banyak orang yang berpikir serupa dengan saya, apakah mereka juga masuk dalam kategori pemilih?

Atau standar saya terlalu tinggi? Standar yang manapula tho? Apakah berharap memiliki suami yang cukup mapan atau memiliki pekerjaan dan bukan pengangguran adalah standar yang terlalu tinggi? Kalau soal fisik dan penampilan, coba tanyakanlah kepada banyak perempuan di sekeliling Anda, mana yang mereka pilih? Seorang laki-laki tampan dan berbau harum dengan tampilan mirip artis atau seorang laki-laki pekerja keras, bertanggung jawab dan setia? Saya yakin Anda akan menemukan lebih banyak perempuan yang memilih opsi kedua. In other words, standar yang saya miliki adalah standar yang lumrah, tinemu ing nalar (masuk akal) dan biasa saja.


Semua orang ingin memiliki "Jalan Hidup" yang umumnya terjadi. Melewati fase kanak-kanak dengan penuh kegembiraan, melalui fase pendidikan setinggi yang bisa dicapai dengan penuh kesuksesan, menikmati fase bekerja dengan penuh kecemerlangan, menjumpai fase pernikahan dengan seorang yang dicintai dan mencintainya dengan segala keindahan, beranak cucu dengan penuh kegirangan hingga akhirnya memeluk akhir hayat dengan penuh kedamaian. Hmm.... hanya orang yang di luar nalar saja yang menghendaki kebalikan dari segala harapan tersebut. Saya dan Anda pastilah sangat menginginkan jalan yang smooth dan tanpa kerikil tajam dalam hidup yang singkat ini.

Pertanyaannya adalah jika ada orang (saya dan sebagian Anda) mendapati fase-fase kehidupan tersebut tidak sesuai dengan yang kita rencanakan, apakah saya (dan sebagian Anda) berpindah tempat dari kotak "wajar" ke kotak yang "tidak wajar"?


Tuhan menghadirkan dunia beserta isinya dalam bingkai misteri. Ada banyak pertanyaan yang tidak dapat dengan mudah kita temukan jawabannya, bahkan beberapa di antaranya tidak akan pernah kita temui jawabannya. Pun demikian halnya dengan persoalan pasangan hidup kita. Ada yang beroleh karunia untuk menikah di usia muda dengan pasangan yang sangat dicintainya. Ada pula orang yang menikah dengan orang yang berkarakter luar biasa dengan penuh linangan air mata dan doa. Dan ada juga yang berjiwa besar dan berkarunia lebih untuk hidup selibat dan tidak menikah seumur hidupnya demi Tuhan yang dicintainya.Saya percaya bahwa keadilan Allah bukanlah suatu hal untuk dipertanyakan. Meski manusia menjumpai sejuta misteri di dunia ini yang tiada terjawab, itu bukan berarti Tuhan di luar kendali dan kehendak serta rahmat kasihNya. Bagi orang-orang yang mengalami "ketidakbahagiaan" dalam masa pernikahanpun tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menggugat keadilan Allah.

Lantas, jika demikian mengapa saya belum juga menikah? If you ask me that question, jangankan Anda, saya sendiri juga tidak tahu mengapa saya belum menikah. Would you mind asking the dancing grass such question for me? hahaha. Biarlah tanya itu tak berjawab, sampai pada saatnya Tuhan menjawab, dan saya bisa berkata...... Aha....ini dia jawabnya. 
















Anai-anai

Pagi ini kota Semarang terasa sejuk, karena semalam hujan mengguyur kota lumpia ini cukup lebat. Pintu kantor saya buka perlahan, bermaksud menuju kamar mandi. Ya, saya bermalam di Kantor karena ada beberapa tugas yang harus saya kerjakan over time. Saat pintu kantor separuh terbuka, saya saksikan beberapa sayap serangga berserakan di lantai teras. Sesuatu yang beberapa bulan ini tidak pernah saya lihat. Ratusan sayap anai-anai atau laron terserak di sana. Entah kemana para pemiliknya, sebagian mungkin sedang berjalan menyisir menuju tempat persembunyian mereka, dan sebagian lain mungkin sudah mati.

Kata orang, laron hadir sebagai penanda musim penghujan, dan mereka laron hanya hidup semalam saja. Ketika pagi menjelang dan matahari mulai bersinar, mereka akan mati dan meninggalkan berkas sayap-sayap mereka berserakan dimana-mana.

Hmm.....pikiran saya mulai mengembara. November.... ya ini sudah mulai musim penghujan. Meski toh dengan catatan bahwa kita saat ini sepertinya sudah tidak dapat lagi memisahkan dengan persis bulan-bulan penghujan dan bulan-bulan kemarau. Jika dulu ketika ada seorang bule bertanya kepada saya: "How many seasons do you have in Indonesia?" Saya akan dengan sigap berkata, "Two! Dry and Rainy Seasons." Namun sekarang, jika ada yang bertanya tentang musim di Indonesia, saya pasti akan menambahkan jeda...."Ehmmm....." diikuti penjelasan bahwa musim sudah tidak menentu. Satu waktu bisa panasnya setengah mati, namun tiba-tiba keesokan harinya hujan sepanjang hari. Atau yang lebih ekstrim lagi, kita dapat menemui pagi yang cerah dan mentari yang terik namun di siang atau sore hari hujan turun dengan lebatnya.

Angan saya semakin jauh berkelana. Apakah laron-laron ini juga mengalami kebingungan? Mereka telah hidup berkoloni sebagai rayap selama berbulan-bulan yang diasumsikan sebagai musim kemarau. Musim penghujan pastilah satu waktu yang mereka tunggu. Mereka keluar dari sarangnya yang lambat laun menjadi "membosankan" dan dengan bebas mengepakkan sayap di udara bebas untuk mencari pasangan dan membentuk koloni yang baru.

Saya berandai-andai menjadi seekor anai-anai. "Ah mak, tengoklah di luar sana sudah mendung, sebentar lagi akan hujan sepertinya. Berarti sekarang sudah mulai musim penghujan kan mak?" teriak saya pada induk saya sambil mengintip di sela-sela kayu. "Ah baiknya kau jangan lekas senang dulu, kita lihat saja beberapa jam ke depan. Jangan-jangan hujan tak jadi datang." jawabnya.

Dan ternyata memang benar. Hujan urung datang sore itu. Ada rasa kecewa di hatiku. Aku sudah menunggu lama berada di sela-sela kayu yang sudah mulai tidak berbentuk. Bosan rasanya melakukan hal yang sama di tempat yang sama selama waktu yang lama. Hati ini sudah sangat merindu musim penghujan sebesar rinduku untuk melihat dunia luar meski semalam dan mencari pasangan. Ah, mau tak mau harus kutahan mimpi untuk segera terbang.

Entah ini sore keberapa kalinya aku mengintip kembali ke luar. Suasana mendung disertai angin yang cukup kencang. Belum hilang asa dalam hati ini, namun tak sebergelora kemarin-kemarin. Berharap hujan? Itu pasti! Berharap lebih? Itu nanti!

Tapi kali ini alam berpihak padaku. Ahai.....hujan turun sangat deras. Bagiku itu memberi kepastian bahwa musim penghujan akhirnya tiba. Dengan segera kupeluk emak dan mengucapkan perpisahan. Ya....aku harus segera bersiap untuk keluar dari sarang. Seusai hujan reda aku akan mengepakkan sayapku dan mencari pasanganku dan membentuk keluarga yang baru. Tapi bagaimana jika ketika di luar nanti aku tak mendapat pasangan? Aku akan mati di luar dan tidak ada kesempatan kembali ke sarang. Ah itu soal nanti, setidaknya aku telah mencoba. Bukankah momen ini adalah momen yang kutunggu selama ini? Dunia luar bersiaplah.....aku datang.....

Aduh, tak dapat lagi saya menahan panggilan alam ini. Saya bergegas berlari kecil ke kamar mandi, sambil tersenyum dalam hati akan lamunan saya tadi. Saya biarkan kisah anai-anai menjadi misteri yang menceriakan pagi saya kali ini.






Ranting Coklat Sederhana

Pohon cemara dari plastik sudah tertata cantik di salah sudut kantor kami. Beberapa hiasan, kertas warna warni dan lampu kerlap kerlip telah tersusun rapi dan menarik di pohon itu.

Hmmm.... tak terasa sudah memasuki bulan Desember, bulan yang ditunggu dengan kegembiraan oleh mayoritas umat Kristiani. 

Entah ini musim Natal ke berapa yang pernah kuikuti. Hitung saja jika saya telah diajak ke gereja oleh ibu saya saat berumur 4 tahun, maka setidaknya sudah 28 tahun saya melewati musim "jingle bells dan Santa Claus" ini. 

Saat pandangan mata saya tertuju pada pohon Natal nan cantik itu, sudut mata kiri saya menangkap pemandangan yang lain. Di luar, di halaman kantor kami teronggok beberapa batang dan carang pohon mangga yang barusan ditebang. daun-daun hijau segarnya sudah berubah warna coklat, demikian pula nampaknya batang dan carangnya mulai mengering. Sangat kontras dengan pohon natal yang hijau (meski imitasi) dengan berbagai hiasan dan lampu kerlap-kerlipnya.

Sontak hati saya tergelitik untuk berefleksi sejenak. Demikian pula yang acapkali terjadi pada bulan "sukacita" macam sekarang ini. Gereja-gereja mulai terlihat dan terdengar hiruk pikuk menyiapkan segala sesuatu menyambut perayaan Natal. 

Beberapa hari yang lalu seorang kawan bercerita betapa untuk serangkaian kegiatan menyambut dan merayakan Natal, pengurus dan aktivis gerejanya tak sungkan dan tak ragu untuk menyiapkan budget puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Hmm... angka yang sangat fantastis menurut saya, yang mungkin sukar bahkan mustahil ditemui di bulan-bulan lain yang seharusnya tak kalah "sukacita"nya. Saya mencoba bertanya alasan di balik sikap yang gereja tersebut lakukan, dan teman saya hanya mengangkat bahu dan geleng kepala, sambil tak lupa menyunggingkan senyum. Mungkin maknanya adalah tidak tahu, tidak mau tahu atau sudah hilang harapan, entahlah.

Teman saya melanjutkan ceritanya. Untuk mempersiapkan sebuah acara perayaan Natal di malam tanggal 25 Desember, gereja tersebut telah menyewa satu band artis rohani terkenal lengkap dengan para penyanyi, choir, dan dancer nya untuk memeriahkan acara. Dan gereja tersebut hanya perlu duduk tenang selama acara berlangsung. Waduh, tambah ngenes  dan miris hati saya ini mendengarnya. Sebegitu mewah dan amazing (meminjam istilah mas Thukul) nya kah seharusnya perayaan kelahiran bayi Kristus.

Dan saya yakin, bukan hanya satu gereja itu saja yang merayakan peristiwa Natal dengan gegap gempita, masih banyak gereja yang serupa. 

Sepertinya terlihat kontras dengan kisah awal kelahiran sang Juruselamat di dunia ini. Sekontras pohon natal dan sekumpulan batang dan ranting pohon yang mengering di halaman kantor. Rasa-rasanya setiap tahun kisah Kristus yang lahir dari seorang perawan Maria dengan Yusuf yang adalah tukang kayu di kandang domba di sebuah kota kecil Betlehem, senantiasa diceritakan berulang hingga pastilah penganut Kristen mengenal cerita itu bahkan hafal di luar kepala.

Kristus memilih lahir di tengah keluarga sederhana, keluarga seorang tukang kayu, yang pastinya secara sosial dan finansial tidaklah masuk perhitungan khalayak ramai. Ia bisa saja lahir di tengah-tengah lingkungan kerajaan dan langsung menyandang predikat seorang raja. Namun tidak dilakukanNya, ia memilih kesederhanaan sebagai jalan lahirnya. Tentu bukanlah tanpa suatu makna. 

Ia lahir di kandang domba yang tentulah jauh kiranya dari kata layak, terlebih istimewa. Tempat yang "terpaksa" dipilih Yusuf dan Maria karena ketiadaan tempat di penginapan dan tentulah juga tempat  yang "terpaksa" dipilih pemilik penginapan untuk mempersiapkan kelahiran sang bayi. Tempat yang jauh dari kesan mulia, dipilih oleh Pemilik Alam Semesta sebagai jalan karya penyelamatanNya. 

Yesus pun lahir di kota kecil Betlehem, bukan di kota pusat pemerintahan, Yerusalem. Ia bisa saja memilih lahir di kota-kota kenamaan, namun ia memilih kota yang kecil untuk memulai karyaNya yang teramat besar dan agung. 

Jika Yesus yang adalah Raja yang kelahiran-Nya diperingati setiap tahun memilih kesederhanaan sebagai jalan hidup dan penyelamatanNya, mengapa manusia memilih kemewahan dan hingar bingar untuk menyambutNya.

Angan saya mendadak hanyut dalam pengandai-andaian. Saya bayangkan diri saya berada pada suatu pesta yang ramai dan meriah, saya mengenakan pakaian terbaik saya yang saya beli dengan harga mahal khusus untuk acara tersebut, saya berdandan secantik mungkin yang mungkin menghabiskan ratusan ribu di Salon, dan saya membawa sebuah kado cantik yang saya beli dari luar negeri atau toko online dengan harga yang tidak membumi. Saya menemui banyak kawan yang bersikap seperti saya. Penuh dengan kemeriahan dan kemewahan. Tak lain dan tak bukan untuk menghormati seseorang yang kami agungkan. Namun sayang di pesta itu tak saya temukan orang tersebut. Yang saya temui adalah berbagai macam orang dengan berbagai motivasi datang ke pesta tersebut. Saya mencoba mencari di setiap sudut rumah, namun tetap tidak saya dapati. Dan tiba-tiba supir saya masuk ke ruangan dan berbisik kepada saya, bahwa orang yang saya cari, yang kami rayakan dengan hingar bingar pesta tidak berada di situ namun berada di sudut jalan bersama dengan orang-orang terpinggirkan. Saya bergegas keluar ke arah yang disebutkan supir saya, dan benarlah demikian. Saya melihat orang yang saya agungkan berpakaian sederhana, jauh lebih sederhana dari apa yang saya kenakan, sedang bercengkrama dan tertawa lepas dengan orang-orang yang kami sisihkan, yang kami anggap bukan apa-apa dan siapa-siapa, sedang menari lepas dengan anak-anak yang tak memiliki orang tua, dengan mereka yang meminta-minta, dengan mereka yang tak pernah bisa berpikir lebih jauh dari apa yang bisa mereka lakukan untuk mendapat makan hari itu saja. Dan saya dapati kaki saya bergetar hebat, kado yang saya pegang erat terlepas jatuh ke bawah, dan saya tak kuat lagi menahan tubuh dan tangis saya. Saya merasa malu berhadapan dengan Sosok yang sangat sederhana dan bersahaja itu. Lantas apa lagi yang musti saya haturkan padaNya selain kesederhanaan dan kesahajaan pula?

Hujan mengguyur dengan deras. Di dalam ruangan kantor, pohon natal masih kokoh berdiri bergemerlapan, sementara batang dan ranting pohon mangga yang telah tertebang itu nampak semakin lusuh dan suram. Mata dan hati saya memandang dua hal yang sangat kontras.

Tuhan, ijinkan saya memberikan makna yang berbeda pada NatalMu kali ini dan di waktu-waktu mendatang. Jika Engkau lahir dengan sederhana, mengapa saya tidak meneladanmu? Jika Engkau memilih berada bersama mereka yang terpinggirkan mengapa saya memilih berada di pusat? Jika Engkau menari lepas dengan mereka yang membutuhkan mengapa saya memilih berjalan di hingar bingar keduniawian dengan kepongahan? Jika Engkau memilih berada di zona tidak nyaman untuk memberikan rasa nyaman bagi mereka yang tersisihkan, mengapa saya memilih berada di zona nyaman bagi rasa aman saya semata? Maka ampunilah saya dan kiranya kau temukan saya, hidup dan hati saya sebagai pribadi, hidup dan hati yang sederhana untuk kau tinggali dan kau pakai. 

Niatan saya untuk menghias kantor dan kos saya dengan dekorasi Natal yang meriah dan berwarna nampaknya harus saya ubah. Besok pagi saya akan gunakan ranting di luar itu sebagai pohon natal dan pohon harapan saya. Bukankah sebuah refleksi senantiasa menghadirkan pembelajaran dan kreativitas? Aha........



Sompok Lama, 3 Desember 2013