Jumat, 25 April 2014

PAYUNG dan keSABARan



“Sediakan payung sebelum hujan,” dan 
“Belajar sabar menghadapi masalah.”
Membaca penggalan ungkapan di atas sepertinya tidak ada hubungan sama sekali antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya. Pun dengan judul dari tulisan ini. Para pembaca hanya perlu sedikit bersabar sambil terus membaca sampai tuntas dan biarkan penulis melanjutkan untuk menjadikan kedua ungkapan maupun judul tulisan ini menjadi berhubungan.

Semula foto di samping sengaja diambil untuk sekedar iseng dan seru-seruan saja. Sebenarnya si pemilik payung  sekaligus yang menjadi fotografernya menolak untuk mengabadikan pose tersebut. Sebagai kekasih mungkin ada rasa malu seandainya ada teman yang sempat melihat foto ini. Nanti dianggap kekasihnya kok kayak gitu?

Benar juga. Setelah sempat berencana untuk mem-posting foto tersebut ke media sosial, niat tersebut akhirnya dibatalkan. Terbayang apa yang ada di imajinasi teman-teman.  Dalam pikiran penulis jangan-jangan  akan memunculkan bermacam komentar. “Kok pacarnya kemayu?” atau “Inilah perempuan setengah pria!” atau (maaf kata) bencong, banci, bencess. Atau teman yang lain bertanya, “Kerja di salon mana, jeng?” dan komentar-komentar lainnya yang bernada mengejek maupun yang sekedar untuk bercanda.

Payung tersebut bukan hanya dijadikan sebagai pelengkap untuk sesi foto tetapi benar-benar digunakan sesuai peruntukannya. Anda yang sudah punya pengalaman menyusuri jalan setapak dari tempat parkir menuju stupa paling puncak di Candi Borobudur pasti tahu bagaimana rasanya berjalan kaki di bawah terik matahari apalagi pas jam 12 siang. Dan payung itulah yang membantu aku dan kekasihku bisa terlindung dari sengatan sinar matahari. Hal  yang bertolak belakang terjadi saat kami mulai menuruni tangga meninggalkan Candi Borobudur dan menyusuri jalan setapak sambil diguyur hujan deras. Tetapi payung yang sama pula yang pada akhirnya bisa melindungi kepala dan sebagian tubuh kami dari siraman air hujan, dan menjadikan hari itu sebagai kenangan tak terlupakan. Berjalan berdua di bawah payung di tengah hujan deras. Betapa romantisnya sore itu.. hehehehehe

Pada akhirnya gambar tersebut menjadi berguna untuk menjelaskan sesuatu sehubungan dengan fenomena alam yang tidak menentu sekarang ini. Hari ini matahari begitu terik dari pagi sampai siang, membuatku berkeringat walaupun di dalam rumah. Sebagian dari teman-teman mulai mengeluh lewat postingan fb soal panasnya siang ini. Teman  lainpun mengeluh soal hujan deras di tempatnya. Dalam keadaan suhu udara yang semakin panas disertai langit yang mulai mendung, berangsur-angsur hujan turun dengan derasnya. Teman-teman yang tadinya mengeluh soal panas tidak kelihatan lagi postingan-nya untuk mengungkapkan rasa syukur akan turunnya hujan. Sementara dari tempat lain masih ada juga yang mengeluh soal panas terik.
Sahabat, saudara, kerabat dan teman-teman dimanapun Anda berada, kita semua mempunyai masalah yang sama dalam hal cuaca. Panas di tempatku mungkin saja hujan di tempatmu. Atau sebaliknya, hujan di tempatku mungkin saja panas di tempatmu. Dari sisi manakah kita bereaksi? Apakah kita hanya mengeluh ataukah kita bersyukur apapun cuaca hari ini?

Dalam kehidupan ini, hujan ataupun panas sering dikaitkan dengan masalah atau persoalan hidup. Hujan gerimis saja kadang kita jadikan alasan untuk bersungut-sungut, alasan untuk batal melakukan sesuatu atau sering kita jadikan alasan untuk membatalkan pergi ke suatu tempat yang telah direncanakan. Kadang masalah yang ringan kita pikul secara salah sehingga terasa begitu berat. Kita sering mencari sandaran yang salah. Tak jarang justru kita menemukan sandaran yang rapuh dan mengakibatkan kita sulit untuk keluar dari masalah. Ketika kita merasa sedih, cemas dan galau akibat himpitan masalah, kita tidak sabar menghadapinya. Kita sering sulit merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita.
Sejenak kita renungkan kata-kata yang pernah ditulis oleh temanku berikut ini.
“SABAR itu ILMU TINGKAT TINGGI” Belajarnya setiap hari, latihannya setiap saat, ujiannya sering mendadak dan sekolahnya seumur hidup. Dan kutambahkan dengan kalimat ini: “Sertakan Tuhan dalam setiap proses belajar, latihan, ujian maupun sekolah agar kita bisa lulus dengan cemerlang.”
Temanku yang lain pernah menulis seperti berikut ini dan kembali kukutip kata-katanya:
Payung tidak bisa menghentikan hujan bahkan gerimis sekalipun. Payung juga tidak bisa menghentikan matahari bersinar menghangatkan bumi. Tetapi payung bisa membuat kita bisa berjalan di tengah derasnya hujan atau di tengah teriknya matahari. Begitupun dengan kesabaran itu. Kesabaran tidak serta-merta bisa menghentikan datangnya masalah kecil maupun besar. Tapi  kesabaran yang berlandaskan pada sikap pasrah dan bersandar pada Tuhan bisa membuat kita kuat berjalan ditengah badai masalah, bahkan kita bisa menang dalam menghadapi masalah apapun.
“Sediakan payung sebelum hujan,” dan  ingat untuk menggunakan payung saat gerimis maupun saat terik matahari. “Belajar sabar menghadapi masalah.” Dan ingat selalu untuk mengandalkan Tuhan sebagai sandaran yang kokoh dan penopang dalam hidup kita.

Akhir kata aku mulai bertanya-tanya, “Berapa kira-kira pendapatan setiap orang yang menawarkan jasa ojek payung di sekitar Candi Borobudur?” J

Pinenek, 22 April 2014
Ambro Julian Montolalu